Home / artikel / Pengertian Total Productive Maintenance (TPM)

Pengertian Total Productive Maintenance (TPM)

Bidang produksi sudah lama memiliki sistem manajemen ketika orang belummemperhatikan bagaimana cara mengatur bidang perawatan karena hanya dianggap sebagai penunjang yang tidak perlu diatur lebih cermat. Setelah teknologi permesinan menjadi lebih rumit dan kapasitas produksi yang dimiliki pabrik semakin besar, mulai terasa ketidakmampuan mesin untuk memenuhi target produksi yang hal ini berarti kerugian besar. Ketidakmampuan tersebut diakibatkan oleh gangguan/kerusakan yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya dan hanya dapat diatasi apabila sekolah memiliki manajemen yang baik di bidang perawatan sehingga dimulailah masa perkembangan manajemen perawatan dari yang paling sederhana yaitu “Breakdown Maintenance” hingga sekarang yaitu “Total Productive Maintenance”.

TPM atau Total Productive Maintenance adalah sebuah sistem manajemen perawatan yang dalam prosesnya melibatkan orang mulai dari manajer hingga ke operator dan teknisi di level paling bawah. Sistem ini bersifat menyeluruh (total) dan terintegrasi dengan baik, meliputi personil perawatan, piranti dan alat uji, suku cadang, fasilitas khusus, data dan perangkat lunak. Biaya yang tidak tepat akan berdampak pada kontribusi biaya yang tinggi. Total Productive Maintenance merupakan suatu filosofi yang bertujuan memaksimalkan efektivitas dari fasilitas yang digunakan di dalam industri, yang tidak hanya dialamatkan pada perawatan saja tapi pada semua aspek dari operasi dan instalasi dari fasilitas produksi termasuk juga didalamnya peningkatan motivasi dari orang-orang yang belajar dalam sekolah itu. Komponen dari TPM secara umum terdiri atas 3 bagian, yaitu: Total approach: semua orang ikut terlibat, bertanggung jawab dan menjaga semua fasilitas yang ada dalam pelaksanaan TPM.

Productive action: sikap proaktif dari seluruh siswa terhadap kondisi dan operasi dari fasilitas sekolah. Maintenance: pelaksanaan perawatan dan peningkatan efektivitas dari fasilitas dan kesatuan operasi produksi. Penyebab kerugian sehingga harus dikeluarkannya biaya perawatan adalah: kerusakan alat, pengoperasian mesin yang tidak standar, personil tidak memadai suku cadang yang tidak tersedia tidak ada alat uji dan tidak adanya data tercatat baik pembelian, penggunaan maupun data lainnya. Total Productive Maintenance (TPM) merupakan jawaban yang akan mampu mengatasi kerugian dengan program-programnya yang terdiri dari: Kegiatan kelompok kecil untuk menanggulangi penyebab kerugian, perbaikan mesin untuk mencapai kondisi operasi maksimal dan mengurangi laju keausan, Keterlibatan operator produksi untuk menjaga kondisi dasar alat/mesin, Meningkatkan sifat mampu pelihara (maintainability) dan mampu tunjang (sustainability), peningkatan efektivitas biaya dan efisiensi pekerjaan perawatan, selain itu TPM memiliki program pencegahan perawatan (Maintenance Prevention), yang merupakan integrasi dari perawatan, engineering dan desainer.

Kehandalan alat, sifat mampu pelihara dan mampu tunjang diperhitungkan sedini mungkin, yaitu pada saat desain. Kemudian analisis yang cermat dari engineer diperlukan untuk menentukan keseimbangan antara perawatan pencegahan dan perawatan korektif/perbaikan. Kelemahan bisa ditemukan pada saat commisioning dan diupayakan semua alat semaksimal mungkin bisa bebas perawatan (maintenance
free).

Batasan TPM terdiri dari 5 unsur yaitu:

  • membangun kerjasama di industri untuk
  • memaksimalkan efektivitas sistem produksi,
  • pendekatan lapangan membangun organisasi yang menangkal setiap kerugian sepanjang masa pakai sistem produksi,
    implementasi TPM ke seluruh departemen (lintas sektoral),
  • melibatkan setiap individu mulai dari pimpinan hingga pekerja lapangan (lintas level),
  • mengadakan kegiatan “zero-loss” melalui kelompok kecil (motivasi)

Kata total memiliki arti sebagai berikut: efektivitas total, sistem perawatan total, partisipasi total, untuk mencapai efektivitas alat, TPM berupaya menghilangkan “besar kerugian” yang terdiri dari:

  1. Downtime yang meliputi: keausan alat, Set-up dan penyetelan.
  2. Kehilangan kecepatan yang meliputi: idling dan berhenti sejenak, pengurangan kecepatan.
  3. Cacat yang meliputi: cacat proses dan pengurangan luluh.

Langkah-langkah yang ditempuh untuk implementasi TPM adalah sebagai berikut: Tahap Persiapan, Tahap Implementasi Awal, Tahap Implementasi TPM dan Tahap Stabilisasi. Tahap ini merupakan tahap akhir dalam implementasi TPM. Total productive maintenance, yang dikembangkan dan diintegrasikan dengan manajemen perbaikan berkelanjutan beserta 5R, akan dapat memenuhi prinsip just in time dalam pelayanan pendidikan yang lebih cepat, akurat, relevan dan selamat. Kombinasi pendekatan manajemen perawatan dan penataan inilah yang dapat dikemas dengan lebih sederhana dan mudah dimengerti serta realistik untuk diterapkan di SMK. Kebutuhan perawatan dan penataan dapat didata dan dikembangkan sistem manajemennya dengan lebih spesifik.

Batasan TPM terdiri dari 5 unsur yaitu:

  1. Membangun kerjasama di industri untuk memaksimalkan efektivitas sistem produksi.
  2. Pendekatan lapangan membangun organisasi yang menangkal setiap jenis kerugian sepanjang masa pakai sistem produksi.
  3. Implementasi TPM ke seluruh departemen (lintas sektoral).
  4. Melibatkan setiap individu dari pimpinan hingga pekerja lapangan (lintas level).
  5. Mengadakan kegaitan “zero-loss” melalui kelompok kecil (motivasi).

Total Productive Maintenance (TPM) merupakan jawaban yang akan mampu mengatasi kontribusi biaya tinggi tadi dengan program-programnya yang terdiri dari:

  1. Kegiatan kelompok kecil untuk menanggulangi 6 penyebab kerugian.
  2. Perbaikan mesin untuk mencapai kondisi operasi maksimal dan mengurangi laju keausan.
  3. Keterlibatan operator produksi untuk menjaga kondisi dasar alat/mesin.
  4. Meningkatkan sifat mampu pelihara (maintainability).
  5. Peningkatan efektivitas biaya dan efisien pekerjaan perawatan

About admin

Check Also

Jenis metodologi kajian perilaku dan budaya keselamatan

Ada beberapa jenis metodologi yang digunakan dalam melakukan kajian perilaku dan budaya keselamatan dalam suatu …